
Buy the dip adalah strategi membeli aset setelah harganya mengalami penurunan signifikan, dengan tujuan memperoleh harga lebih rendah. Konsep ini berarti memasang order saat harga sedang “diskon”, namun perlu strategi jelas dan kontrol risiko, bukan sekadar berburu harga murah.
Contohnya, jika suatu koin sebelumnya bergerak di sekitar $100 dan turun sementara ke $92, Anda dapat membagi pembelian di $95, $93, dan $91 selama harga turun, daripada langsung membeli di $100. Pendekatan ini menurunkan rata-rata harga masuk, sehingga lebih mudah mencapai impas atau mendapat keuntungan jika harga kembali ke kisaran sebelumnya.
Buy the dip sering digunakan di pasar kripto karena fluktuasi harga sangat sering terjadi dan sentimen jangka pendek berubah cepat, sehingga siklus penurunan dan pemulihan berlangsung singkat. Banyak trader memanfaatkan pola volatilitas ini untuk mengoptimalkan rata-rata biaya pembelian.
Aset kripto sangat peka terhadap kondisi pasar, likuiditas, dan berita—seperti perubahan regulasi, update proyek, atau perubahan suku bunga makro—yang dapat memicu penurunan tajam dalam waktu singkat. Modal spekulatif dan trading algoritmik memperbesar ayunan harga, sehingga pembelian pasca-penurunan menjadi strategi yang banyak digunakan. Namun, perlu diingat, penurunan harga tidak selalu diikuti pemulihan langsung.
Prinsip buy the dip didasari dua konsep utama: pertama, “mean reversion”, yaitu harga cenderung kembali ke rata-rata setelah menyimpang dari rentang normal; kedua, perilaku investor—saat harga mendekati area dengan minat beli historis yang kuat, pembeli baru cenderung masuk.
“Drawdown” adalah persentase penurunan dari harga tertinggi terakhir, yang mengukur seberapa dalam harga turun. Support level menandakan rentang harga dengan minat beli kuat secara historis, mirip titik harga favorit di toko. Buy the dip dilakukan dengan masuk posisi secara strategis di dekat drawdown dan support level yang penting, memanfaatkan probabilitas untuk memperoleh keuntungan biaya.
Tidak ada harga terendah absolut—yang ada hanya harga terendah relatif. Buy the dip biasanya menggunakan persentase drawdown terbaru dan zona support historis sebagai acuan entry.
Langkah 1: Evaluasi drawdown. Tetapkan ambang drawdown, misalnya hanya masuk setelah penurunan persentase tertentu dari harga tertinggi terakhir.
Langkah 2: Tinjau support level. Gunakan zona dengan aktivitas trading tinggi di masa lalu sebagai acuan minat beli kuat.
Langkah 3: Pertimbangkan volatilitas. Semakin tinggi volatilitas (besaran ayunan harga), semakin lebar jarak penempatan order beli agar tidak terkonsentrasi di level berdekatan.
Langkah 4: Tetapkan batas. Tentukan batas maksimal total investasi per dip untuk mencegah eksposur berlebih jika harga terus turun.
Gate menyediakan berbagai tools untuk implementasi strategi buy the dip, seperti limit order, conditional order, dollar-cost averaging (DCA), dan grid trading—dilengkapi fitur manajemen risiko.
Langkah 1: Gunakan limit order. Limit order memungkinkan Anda menentukan harga beli maksimum—order hanya dieksekusi jika pasar mencapai atau melewati harga tersebut. Ini mendukung pembelian bertahap di level yang sudah ditentukan.
Langkah 2: Gunakan conditional order. Conditional order dieksekusi berdasarkan kriteria tertentu—misalnya, otomatis memasang limit buy saat harga turun di bawah level yang ditetapkan, memastikan entry hanya setelah penurunan signifikan.
Langkah 3: Atur stop-loss. Stop-loss otomatis menjual aset jika harga turun ke level yang ditentukan, melindungi dari kerugian berlebih akibat pembelian berulang di pasar turun.
Langkah 4: Kombinasikan DCA dan grid trading. DCA berarti investasi dengan jumlah tetap secara berkala tanpa memperhatikan kondisi pasar, menjaga disiplin meski tidak ada dip jelas. Grid trading mengotomatiskan beli di harga rendah dan jual di harga tinggi dalam rentang yang ditentukan, memungkinkan batch buy dan sell secara sistematis. Keduanya bisa digabungkan dengan buy the dip untuk meratakan rata-rata biaya.
Contoh: Tetapkan harga pemicu pada drawdown 8%; setelah tercapai, pasang tiga batch limit buy order lengkap dengan stop-loss dan rasio posisi target. Jika harga masuk ke zona yang dipilih, aktifkan grid trading untuk otomatisasi beli rendah dan jual tinggi dalam rentang tersebut.
Buy the dip bersifat “event-driven”—pembelian dilakukan saat harga turun ke kondisi tertentu; DCA bersifat “time-driven”—investasi dilakukan dengan jumlah tetap secara berkala tanpa memperhatikan pergerakan harga jangka pendek.
Buy the dip membutuhkan penilaian dan eksekusi aktif dengan kondisi pemicu serta kontrol risiko; DCA menekankan disiplin dan kesabaran, cocok bagi yang tidak ingin terus memantau pasar. Keduanya bisa digabungkan: gunakan DCA untuk konsistensi jangka panjang, dan tambahkan order buy the dip saat terjadi drawdown—pastikan Anda menetapkan batas posisi keseluruhan jika menggabungkan kedua metode.
Risiko terbesar adalah “catching a falling knife”, yaitu harga terus turun setelah Anda membeli sehingga kerugian menumpuk. Risiko lain adalah salah menilai tren turun normal sebagai koreksi sementara.
Leverage menambah risiko—leverage memperbesar posisi dengan dana pinjaman namun meningkatkan peluang likuidasi paksa saat terjadi penurunan. Risiko likuiditas juga penting—koin kapitalisasi kecil bisa memiliki order book tipis saat harga anjlok, menyebabkan slippage besar. Selain itu, berita tak terduga atau perubahan fundamental (seperti insiden keamanan atau perubahan regulasi) dapat mengubah ekspektasi jangka panjang.
Selalu atur stop-loss di setiap pembelian dan batasi posisi aset maupun eksposur akun secara keseluruhan. Pastikan keamanan dana sebelum menjalankan strategi ini.
Anda dapat mengoptimalkan buy the dip dengan entry berbasis aturan, pembelian bertahap, dan manajemen risiko yang kuat.
Langkah 1: Tentukan kondisi pemicu. Gunakan persentase drawdown atau level harga kunci sebagai pemicu—misalnya, hanya memasang order setelah support historis ditembus.
Langkah 2: Lapisi pembelian. Bagi investasi menjadi beberapa batch (misal tiga hingga lima tranche) dengan limit order terpisah setelah pemicu aktif, bukan masuk sekaligus.
Langkah 3: Tetapkan rencana keluar yang jelas. Atur stop-loss dan take-profit untuk tiap batch agar profit dapat dikunci bertahap saat rebound dan kerugian terkendali jika penurunan berlanjut.
Langkah 4: Otomatiskan eksekusi. Manfaatkan conditional order dan grid trading dari Gate untuk otomatisasi trigger, pembelian bertahap, dan pengambilan profit—mengurangi pengambilan keputusan emosional saat pasar bergejolak.
Strategi buy the dip cocok untuk mereka yang percaya pada nilai jangka panjang, siap menghadapi volatilitas, dan disiplin dalam eksekusi. Anda harus siap jika harga terus turun setelah membeli, dan sabar menunggu pemulihan.
Jika Anda sangat mengandalkan leverage, tidak bisa menetapkan atau mematuhi stop-loss, atau kurang memahami aset yang dituju, buy the dip tidak disarankan. Fokuslah pada penerapan aturan dan kontrol risiko yang jelas, bukan mengejar titik terendah sempurna.
Buy the dip adalah strategi optimasi biaya yang fokus pada entry setelah penurunan harga relatif, berdasarkan analisis drawdown dan support, dengan entry bertahap dan proteksi stop-loss yang ketat. Gate memfasilitasi eksekusi terstandar melalui limit order, conditional order, DCA, dan grid trading. Yang utama, tetapkan batas posisi dan aturan entry/exit yang jelas; utamakan disiplin daripada mencoba menebak dasar pasar. Dengan aturan yang jelas, buy the dip bisa menjadi alat jangka panjang yang efektif.
Ya, keduanya merujuk pada konsep yang sama. “Buy the dip” adalah istilah dalam bahasa Inggris untuk membeli setelah harga turun; padanan dalam bahasa Mandarin adalah “逢低买入.” Keduanya menggambarkan strategi masuk posisi di harga lebih rendah yang menarik—umum digunakan dalam trading kripto.
Pertimbangkan tiga faktor: perbandingan harga historis (apakah sudah menembus support?), indikator teknikal (misal, RSI di bawah 30 menandakan oversold), dan toleransi risiko pribadi. Pemula disarankan menggunakan moving average jangka panjang (seperti MA 200 hari) sebagai acuan, bukan mengejar pergerakan jangka pendek.
Utamanya karena harga yang tampak “rendah” belum tentu benar-benar rendah—harga bisa terus turun (“gagal menangkap dasar”). Risiko lain adalah alokasi modal berlebihan sekaligus (menyebabkan tekanan finansial), trading emosional sehingga membeli di harga tinggi, dan tidak adanya stop-loss yang memperbesar kerugian. Entry bertahap dan stop-loss ketat sangat disarankan untuk manajemen risiko.
Pastikan Anda memiliki cukup dana tunai atau stablecoin (USDT/USDC) agar dapat bertindak saat peluang muncul. Siapkan rencana trading yang jelas—meliputi target harga beli, alokasi per entry, dan batas stop-loss. Lakukan verifikasi identitas dan deposit dana di Gate atau platform utama lain agar bisa merespons cepat saat kondisi pasar berubah.
Berbeda. Buy the dip adalah strategi pembelian bertahap pada beberapa level harga rendah relatif; bottom fishing berarti masuk sekaligus pada titik yang dianggap sebagai harga terendah. Bottom fishing berisiko lebih tinggi karena menebak dasar pasar sangat sulit; buy the dip menawarkan fleksibilitas entry dan risiko yang lebih tersebar.


